Catatan Tanggal 9.6.11

Menabung ASIP

Sekarang usia Bebe sudah 6 minggu. Sejak minggu lalu, mulai terpikir untuk mulai menabung ASI sekalian belajar memerah ASI, baik dengan tangan, pompa manual, maupun pompa elektrik. Sebetulnya, saat baru pulang dari rumah sakit saya pernah mencoba memerah ASI. Waktu itu saya gunakan pompa manual produknya Tommee Tippe karena hanya itu yang ada dan saya tidak tahu cara memerah ASI dengan tangan ;-). Hasilnya hampir membuat saya patah semangat. Sedikiiiiiit sekali. Tidak sampai 30 mL dari 2 payudara. Setelah saya coba lagi dengan cara yang sama, sekarang bisa 60 mL . Masih sangat sedikit dibandingkan hasil perahan ibu-ibu lain seperti yang saya baca di internet tapi sudah lumayanlah. Besoknya saya coba memerah dengan tangan, hasilnya sama. 60 m dari 2 payudara. Besoknya lagi saya coba memerah dengan pompa elektrik, merknya Core, kado dari Teh Nila, hasinya sama, kira-kira 60 mL juga. Setelah dibandingkan, kok kayaknya lebih enak memerah dengan tangan ya. Katanya sih metode perah ASI itu memang cocok-cocokan. Setiap ibu punya pilihan yang berbeda.
Besoknya saya coba lagi memerah dengan pompa elektrik. Penasaran ;-) Hasilnya lebih banyak. Dua kali lipat. Jadi semangat, deh. Sejak itu, pompa ini jadi pilihan saya. Hmmm, jadi penasaran mau coba pompa elektrik bikinan Medela yang banyak direkomendasikan ibu-ibu di dunia maya, tapi harga itu, lho, lumayan menguras kantong, hehe.
Setelah menjalani beberapa sesi memerah, saya dapati hasil perahannya stabil, sekitar 60 mL sekali perah selama 5-15 menit dari satu payudara. Biasanya saya memerah sambil menyusui karena lebih mudah mendapatkan Let Down Reflex-nya, bisa sampai 3-4 kali. Memang tidak banyak, tapi kalau sering diperah hasilnya kan jadi banyak. Dua hari lalu saya coba memerah setiap 2 jam sekali dari 1 payudara mulai pukul 18.00 sampai pukul 06.00 keesokan harinya. Sebagian saya lakukan sambil menyusui Bebe, sebagian lagi tidak. Hasilnya sekitar 450 mL. Lumayanlah. Lumayan hasilnya dan lumayan bikin capek juga, hehe. Agak ngoyo, sih.
Sebetulnya saya agak bingung menghitung keperluan minum Bebe selama saya tinggal bekerja nanti. Ada beberapa acuan yang saya temukan setelah browsing sana-sini, tapi katanya sih sebetulnya tergantung kebutuhan anaknya juga. Ada yang minumnya banyak, ada yang sedikit. Saya pernah coba meminumkan ASI hasil perahan untuk Bebe. 60 mL dihabiskannya dalam 3 jam. Anggap saja Bebe saya tinggalkan selama 12 jam, maka saya setidaknya harus menyediakan sekitar 240 mL Hmm, stok 300 mL perhari mudah-mudahan cukup ya. Nanti mungkin perlu simulasi dulu sebelum saya benar-benar masuk kerja. Supaya saya siap, bebe siap, dan tentu Eyang juga siap. Kan nanti Bebe dititipkan sama Eyang (makasih, ya, Yang).

0 komentar dari:

beri komentar - link ke catatan ini

ASI untuk Bebe ...

Saat hamil, saya sudah berniat untuk memberikan ASI eksklusif selama enam bulan pertama untuk Bebe. Oleh karena itu, untuk melahirkan saya memilih rumah sakit yang mendukung program ini. Saya juga sudah menyiapkan beberapa perlengkapan untuk memudahkan pemberian ASI setelah bekerja kembali nantinya: pompa ASI, kantong penyimpan ASIP, botol susu berleher lebar dengan dot menyerupai puting susu ibu, dan cooler bag lengkap dengan ice pack-nya. Tapi rencana tidak selalu dapat dilaksanakan sesuai harapan.
Inisiasi menyusu dini tak berjalan seperti yang saya bayangkan. Saya melahirkan lewat operasi. Sulit tentunya untuk melakukan IMD seperti yang saya lihat di video tentang IMD. Memang Bebe sempat ditempelkan ke dada saya sebentar, tapi itu tidak sama. Saat di ruang pemulihan, belum lewat 1 jam setelah dilahirkan, Bebe juga sempat dibawa untuk disusui, tapi dia tidur lelap sekali, tak mau bangun.
Masalah lainnya, ASI saya tidak segera keluar. Awalnya saya masih tenang, toh masih ada waktu 3 x 24 jam untuk menunggu. Lagipula saya tak sendiri, tetangga sebelah juga mengalami hal yang sama. Tapi kemudian badan Bebe agak panas dan terus-menerus menangis. Sebagai ibu baru yang tak berpengalaman, saya panik. Akhirnya setelah 36 jam saya relakan Bebe minum susu formula, sambil terus berusaha menyusu pada saya. Baru keesokan harinya ASI keluar meski belum lancar. Karena sudah terlanjur tidak percaya diri, siangnya saya minta Bebe diberi tambahan susu formula lagi. Sore sampai keesokan harinya (saat diizinkan pulang dari rumah sakit), Alhamdulillah, Bebe bisa minum ASI.
Tadinya saya pikir masalah kesulitan ASI ini sudah selesai sampai di sini. Ternyata belum. Malamnya Bebe menangis tak mau diam. Saya susui, tapi saya merasa Bebe tidak puas, tangisannya masih belum berhenti. Saya panik lagi. Akhirnya saya siapkan susu formula, 30 cc saja. Waduh, Bebe minum sampai berbunyi cleguk-cleguk. Lahap sekali. Kasihan. Ya sudah, saya pasrah. Kalau memang harus diselingi formula, ya ndak apa-apa, ya, Nak, tapi Ibu tetap berusaha. Besok paginya saya masih menyiapkan 30cc susu formula untuk Bebe. Ternyata, sampai saat ini, itu susu formula terakhir yang diminum Bebe. Setelah itu, Bebe hanya minum ASI. Alhamdulillah.
Berbagai cara saya lakukan untuk melancarkan produksi ASI, antara lain minum Molocco dari dokter, minum ekstrak daun katuk, makan sayur bening katuk, dan minum air kacang hijau. Hasilnya, meski tidak sangat berlimpah, produksi ASI lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan Bebe. Sekali lagi, Alhamdulillah.

0 komentar dari:

beri komentar - link ke catatan ini

Catatan Tanggal 14.5.11

Nyamuk-nyamuk nakal

Ada beberapa bekas gigitan nyamuk di tangan Bebe. Kasihan.
Kalau malam, Bebe tidur di kasur berkelambu, tapi siang hari Bebe biasa ditidurkan di playpen di luar kamar, tanpa kelambu. Sejak tahu ada nyamuk-nyamuk nakal itu, saya letakkan gelang anti nyamuk (yang mengandung minyak sereh) di dekat Bebe.
Sebetulnya gelang itu saya beli sudah cukup lama. Cuma saya pakai sekali, lalu saya simpan. Mengapa? Karena Hubby berkomentar: "Gelang ini sih bukan cuma ampuh untuk mengusir nyamuk, tapi juga ampuh mengusir suami. Gelang anti-suami." Hehe, Hubby tak suka bau minyak sereh.

0 komentar dari:

beri komentar - link ke catatan ini

Catatan Tanggal 7.5.11

Lahirnya Bebe ...

Rasanya waktu berjalan cepat sekali. Tiba-tiba ada yang datang untuk mengkonfirmasi data pada riwayat kesehatan saya. "Punya asma? Ada alergi obat?" Dan Hubby diminta mengisi surat persetujuan operasi. Setelah itu, saya diminta berganti pakaian, cukur-cukur lagi, dan tes alergi (karena saya ada riwayat alergi obat).
Tiba-tiba rasa takut menyergap. Rasanya beum siap. Takut. Saya kan belum cari-cari info soal operasi ini. Kalau tentang induksi, segudang info sudah saya baca. Wah, bagaimana ini? Saya memang sudah pernah dua kali menjalani operasi, tapi kan semuanya dengan bius total, berbeda dengan yang sekarang.
"Bu, sudah berdoa? Kita akan segera masuk ruang operasi." Waduh, this is it!" Setelah berdoa bersama Hubby, saya didorong masuk ruang operasi. Hmm, baru teringat, saya belum sempat berpamitan langsung dengan Ibu dan Bapak.
Setiba di ruang operasi, rasanya semakin deg-degan, tekanan darah naik. 140/91. Takuuut. Setelah dibius, mulai terasa kebal. Saya bertanya ke dokter anestesi, "Dibeleknya kapan, ya, Dok?" Jawabnya, "Lho, gak terasa, ya?" Wahh, berarti yang terasa sret, sret tadi itu.
Karena takut, saya pejamkan mata. Duh, ini perut rasanyanya kok kayak ditarik-tarik. Tak sengaja saya melihat ke arah lampu besar di atas meja operasi. Wah, suasana meja operasi terpantul di sana. Meski tak sejelas hasil pantulan cermin, tapi cukup jelas. Waduh, lebih baik merem, nih.
Tiba-tiba saya mendengar seseorang di belakang saya berkata, "Maaf, ya, Bu, saya dorong perutnya." Hmm, sudah waktunya Bebe dikeluarkan rupanya. Nah, yang ini harus dilihat. Saya buka mata, dan saya lihat Bebe diangkat. Saya dengar Bebe menangis, Tangisannya aneh, seperti menangis dalam air. Tak lama Bebe dibawa ke dekat saya. Saya cium Bebe. Wah, lega. Bebe terlihat sehat dan cakep (semua ibu pasti merasa bayinya yang paling cakep, hehe). Kulitnya bersih dan rambutnya lebat sekali. Kemudian, kepalanya ditempelkan ke dada saya. Supaya dia mengenal puting ibunya, kata dokter.
Alhamdulillah. Terima kasih Allah. Hari itu saya menjadi ibu, tepat di saat saya genap berusia 36 tahun. Saya cium Bebe sekali lagi sebelum dia dibawa keluar.

0 komentar dari:

beri komentar - link ke catatan ini

Induksi itu ...

Sesuai rencana, karena mules tak datang juga, Hari Kamis, 28 April 2011 saya check-in di RSIA Hermina Pasteur. Tiba di Hermina kira-kira jam tiga sore. Setelah lapor dan menyerahkan surat pengantar, saya langsung diantar ke ruang bersalin untuk persiapan induksi. Hubby menemani saya di dalam. Bapak dan Ibu menunggu di luar.
Setelah riwayat kesehatan dicatat, beberapa pemeriksaan dan perlakuan awal diberkan. Mulai rekam jantung, tekanan darah, diberi seragam rumah sakit, cukur-cukur ;-), dan kuras isi perut. Ternyata tekanan darah saya agak tinggi, 130/80 atau 130/90, saya lupa. Saya diminta tes urine. Setelah semua selesai, saya diminta menunggu. Oya, waktu itu katanya sudah pembukaan satu.
Induksi dimulai sekitar pukul setengah tujuh malam. Bapak dan Ibu saya minta pulang saja, berisitrahat di rumah. Toh, prosesnya diperkirakan berangsung lama. Hubby juga meninggalkan saya sebentar untuk mengurus administrasi pendaftaran, sekalian mencari makanan untuk cemilan dan makan malam.
Sendirian, saya tunggu-tunggu rasa mules datang. Hmmm, kok, belum ada juga. Bidan yang bolak-balik datang memeriksa bolak-balik mengatakan,"Sekarang pasti sedang mules, ya, Bu. Ini perutnya kenceng." Saya bingung menjawabnya. Iya, sih, memang terasa mengencang, keras bila ditekan, tapi saya pikir itu karena gerakan janin. Waktu rekam jantung, bidan lain juga bertanya, "Ibu minum rumput fatimah, ya? Kontraksinya mantep, nih." Ooooo, waktu itu saya baru ngeh, ini rupanya yang disebut kontraksi. Perut bagian atas mengencang dan pinggang terasa pegal. Waktu itu sekitar pukul setengah sembilan, kontraksi saya rasakan sekitar dua menit sekali, sudah pembukaan dua. Akhirnya cairan infus habis sekitar pukul satu dini hari. Pembukaan jalan di tempat. Tidak bertambah. Sementara induksi dihentikan.
Induksi dilanjutkan pukul enam pagi. Sekitar pukul tujuh, dokter datang memeriksa. Masih pembukaan dua. Dokter meminta saya siap-siap berpuasa. Kalau sampai siang tidak ada perubahan, terpaksa diambil tindakan operasi. Hmm, OK, no problem, pikir saya. Kita tunggu saja.
Pukul delapan, Hubby berangkat untuk ujian. Sementara, Ibu yang menemani saya. Hubby bilang, dia akan kembali segera setelah ujian selesai, sebelum waktunya Shalat Jumat.
Pukul sebelas, pembukaan masih jalan di tempat. Dokter meminta saya menunggu sampai pukul satu sebelum diputuskan apakah tindakan operasi jadi dilakukan. Hmmm, jadi deg-degan.
Dan, waktu yang ditunggu tiba. "Ibu, kata Dokter Irna, nanti Ibu masuk ruang operasi jam dua, ya."

0 komentar dari:

beri komentar - link ke catatan ini

Catatan Tanggal 27.4.11

Nostalgia ...

Hari ini iseng-iseng saya baca tulisan-tulisan lama yang saya muat di blog. Hmmmm, rasanya seperti kembali ke masa lalu. Saat saya dan Hubby belum menikah, saat kami ingin saling mengenal.
Kalau diingat-ingat, rasanya dulu saya dan Hubby lebih rajin menulis dibandingkan sekarang. Apakah mungkin sekarang kami lebih sibuk sehingga tak sempat lagi melakukannya? Ah, saya rasa bukan itu alasannya. Dulu, tanpa unsur kesengajaan rupanya kami menjadikan blog sebagai media untuk saling mengenal. Kami menulis dan saling mengomentari tulisan kami. Rasanya senang sekali ada yang membaca dan tertarik dengan tulisan kami, meski isinya tak jauh dari cerita ringan tentang kejadian sehari-hari.
Ada untungnya kami menuliskan semua cerita itu di blog. Kami jadi memiliki semacam dokumentasi perjalanan kisah persahabatan kami.
Awalnya, blog utama saya adalah blog yang saya buat di Blogger, tapi kemudian saya pindahkan ke Multiply. Blog yang di Blogger tetap ada. Isinya salinan dari Blog di Multiply. Layout dan link blog kawan-kawan yang ada di sana tak pernah saya perbaharui dan rasanya tak ingin saya perbaharui. Biarlah menjadi catatan sejarah, hehe. Kecuali kalau ada protes keras dari pihak yang merasa keberatan (but I realy hope you don't mind, Honey ...).

0 komentar dari:

beri komentar - link ke catatan ini

Jadi bagaimana?

Janin sehat, air ketuban cukup. Itu hasil pemeriksaan dokter kemarin. Saran dokter pun masih sama. Kalau mulesnya masih belum datang, hari Kamis atau Jumat bisa coba diinduksi.
Wah, induksi? Cerita orang tentang proses kelahiran dengan induksi sangat beragam. Ada yang berjalan cepat dan lancar, tapi ada juga yang berlangsung lama dan berujung pada operasi. Saya pasrah saja, apa pun yang akan terjadi nanti tetap harus saya lewati.
Bapak dan Ibu kelihatannya agak gelisah memikirkan proses kelahiran Bebe nanti. Tidak tega membayangkan saya kesakitan, itu kata mereka. Kemarin, saya ajak Ibu berkonsultasi dengan dokter. Ibu kelihatannya puas bisa bertanya dan mendapatkan jawaban tentang banyak hal, tentang induksi, epidural, dan operasi caesar. Pada akhirnya kami sependapat bahwa induksi adalah jalan terbaik yang bisa dipilih saat ini. Opsi lain akan dipertimbangkan bergantung pada perkembangan keadaan nantinya.
Pertanyaannya, hari apa yang akan kami pilih? Hmmm, setelah berdiskusi dengan Hubby, kelihatannya kita mau pilih mulai induksi Hari Kamis siang/sore. Kalau semua berjalan sesuai prediksi dokter, insya Allah Jumat subuh bisa lahir. Namanya prediksi, tentu bisa meleset. Tapi tak apa, dijalani saja. Mudah-mudahan semua berjalan lancar dan Hubby bisa menemani saat Bebe lahir. Sebetunya agak resah juga, soalnya Hubby ada ujian Hari Jumat pagi. Meski demikian, justru Hubby yang menyarankan masuk rumah sakit Hari Kamis. Katanya Hari Sabtu dan Minggu Hubby bakal lebih sibuk lagi, halah!!!
Teman-teman semua, mohon doanya, ya. Semoga apa yang kami harapkan dikabulkan-Nya. Semoga prosesnya lancar dan kami berdua sehat.
Terima kasih.

0 komentar dari:

beri komentar - link ke catatan ini

Catatan Tanggal 24.4.11

Menghitung hari (lagi) ...

Hari ini sudah lewat 2 hari dari hari perkiraan lahirnya Bebe. Kemarin kata dokter volume air ketuban cukup, kondisi Bebe sehat. Selain USG, kemarin sempat disuruh ambil NST (Non Stress Test) juga.
Dokter minta saya datang lagi Hari Selasa, jika rasa mules belum juga datang. Selanjutnya, datang lagi Hari Kamis jika belum ada perubahan. Nah, setelah itu baru dibicarakan tindakan apa yang akan diambil. Kata dokter, Hari Kamis atau Jumat Bebe bisa dirangsang untuk lahir.
Hmmm, seru juga kalau ternyata lahirnya hari Jumat. Mengapa? It's my birthday!

3 komentar dari: *Blogger ami *Blogger dewi *Blogger ami

beri komentar - link ke catatan ini

Catatan Tanggal 17.4.11

Menghitung hari ...

Dear Bebe,
Minggu ini kehamilan Ibu sudah menginjak minggu ke-40, tapi Bebe di perut terlihat tenang-tenang saja. Masih belum ada tanda-tanda ingin keluar.
Ya, tak apalah. Kalau Bebe memang belum ingin keluar, Ibu tunggu. Toh, Dokter Irna bilang, kita masih punya waktu untuk menunggu. Tak ada alasan untuk bersegera mengeluarkanmu. Kata Dokter Irna, air ketuban ibu masih cukup banyak, keadaan Bebe juga kelihatannya baik. Berat Bebe diperkirakan antara 2,7-3 kg.
Hmm, dulu Bebe diperkirakan lahir sekitar tanggal 22 April. Sebentar lagi. Kalau ternyata lahir tepat waktu, tinggal beberapa hari lagi Ibu menunggu.
Ibu sayang Bebe. Ayah juga. Kami amat menunggu.kehadiranmu.
Semoga proses kelahiran Bebe nanti lancar. Semoga Ibu dan Bebe sama-sama sehat.
Sampai jumpa nanti, ya, Nak.

0 komentar dari:

beri komentar - link ke catatan ini

Catatan Tanggal 30.1.11

Pregnancy update

It's the 29th week now. I'm getting bigger in every part.
I've been wondering why my belly looks ugly with dark patches all over. Shouldn't it look lighter in color due to the stretched skin? One of my friend said it might be caused by hyperpigmentation, which is common during pregnancy. Hmmm. It might be it. I'll ask my doctor about this.
This afternoon, while taking shower, I noticed something different with my belly. The bottom part is now harder/tighter than usual while the upper part is now softer. And the hurt on my rib is now gone. Has the baby changed his position (ups, yes, the doc said, it's a boy!)? Is his head now at the bottom? Can't wait to see how you're doing now ...

1 komentar dari: *Anonymous omietha BunAff

beri komentar - link ke catatan ini

Tentang Saya


Nama saya dewi.
Ingin tahu lebih banyak tentang saya? Klik di sini atau kunjungi blog utama saya di Multiply atau lihat profil saya di Friendster.

Subscribe to
Posts [Atom]

Catatan Sebelumnya

Arsip

Kotak Pesan


Free shoutbox @ ShoutMix

Yahoo!Groups

Harus Baca Ini

Catatan
Kawan-Kawan


Terima Kasih


Tentang Anda

Lainnya